Monolog Klitoris

Gawat! Aku melompat dan berhambur mendekat ke depan TV. Ada orang yang malah tersenyum-senyum habis menyunat bayi, dengan bangganya ia dan mereka mengatakan bahwa ini adalah budaya dan tradisi, seakan mengabaikan kenyataan malah tersenyum lebar, tangannya gesit menjamah klitoris lalu menusukannya dengan jarum. Dalam hati Aku berteriak-teriak menyuruh mereka berhenti. Suaraku bersaing dengan suara keangkuhan doktrin. Tapi kebodohan seakan tak perduli…

Tak apa-apa Nak, katanya riang, dengan pakaian serba putih seperti mantri malaikat putih itu malah menyunat anak-anak dan remaja yang lainnya. aku tak tega, Maka meraunglah-meraunglah klitoris itu seperti hewan kena siksa. Sungguh aku tak sampai hati melihatnya…

Tenanglah Nak, tak ada masalah, mereka terus bergerilya, Situasi menjadi runyam karena lapisan yang klitoris yang sekulit ari itu rusak, berantakan, berhamburan dan berdarah-darah. Para malaikat putih itu malah semakin senang seperti anak kecil menemukan mainan yang asyik dan celaka! Ia mulai memarut, menyayat kalau perlu sedikit di bakar!… pol! Aku berteriak histeris dan ingin mencegahnya. mereka tetap tak perduli. mereka malah terbahak-bahak melihat klitoris itu meronta-ronta. Lalu mereka menghentikan aksinya dengan obat antibiotik sekali usap, beres, untuk mematikan kadar rasa sensitivitasnya sepanjang hidupnya.

Merekapun berlalu dengan di sertai satu senyum yang mengerikan. klitoris yang malang itu terkelepar, tak bernyawa, tanpa daya, tanpa makna…

Mereka berlalu meninggalkan yang gemetaran, yang sedari tadi tak bisa menanggungkan miris atas tragedi  yang menimpa klitoris. Sementara mereka duduk santai di kursi goyang semu di atas kepalanya sambil tersenyum-senyum puas penuh kemenangan. Aku benci melihatnya.

Jika kau sudi menghampiri, ia megap-megap dan tampak sangat menderita. Maka yang dapat kau lakukan adalah menenangkannya. Tak tahukah Ia menatapmu seperti mengadu. Peluklah ia, Janganlah kau berpaling melihatnya, jangan pernah melakukan kesalahan dan kebodohan yang sama lagi pada yang lainnya…

Malam itu aku tak dapat tidur. Mereka, para malaikat putih telah menggagahi dan mengebiri klitoris dengan brutal. Ia telah menjadi korban kekerasan seksual dini. Aku sedih, sedih sekali lalu marah. Malam itu, aku mulai memikirkan pembelaan untuknya, bahwa ia bukanlah tempat sarang kotor, tempat sarang perlengketan, biang kebinalan wanita, dsb, semua itu adalah tuduhan yang kerdil. Demi kehormatan klitoris, kan ku tulis sebuah monolog klitoris…

MONOLOG KLITORIS

Lambat laun, terjalinlah hubungan emosional antara aku dan klitoris. Aku terpesona akan kecerdasan di balik sistem dan mekanikannya. Ia adalah instrumen representasi cinta yang agung dan ia hadir di muka bumi bagi yang mampu mengapresiasi anugrah ini. Ia mampu membuat urusan mengubah bentuk menjadi sangat mudah. Bukankah luar biasa?

Kurasa, dari sekian banyak hal di dunia ini, hanya diriku dan klitoris  yang bisa memahamiku, adakalanya saat sedang beraktivitas dengannya, aku merasa telah menyatu. Jika sedang sepi, aku menyelinap dan bercakap-cakap dengannya, kami ngobrol tentang lagu-lagu indah, tentang dunia, harmoni, kemanusiaan, keindahan dan kasih. aku tak pernah berpikir bahwa ia adalah hanya sebuah benda, sebaliknya ia memiliki roh yang memiliki jagad nuraninya tersendiri, ia adalah sahabat wanita terbaik dan yang paling setia.

Aku terpikat pada bentuknya yang kukuh, Ia tegak, jenjang sedikit berlekak-lekuk. Ia padat tapi tak bersegi. Maka, ia seperti tubuh perempuan. Belum menghitung suaranya…

Ketika kupencet tombol ‘on’ saat itulah kutiupkan nyawa kedalam dirinya dan ia hidup, lalu ia tersenyum, lalu ia berbunyi seperti intro barisan string orkestra. Ketika kusentuh dengan lembut, saraf-saraf lembutnya mulai bangkit dan bergetar, melayang. Suara barisan string tadi meningkat menjadi berdesing bak pesawat terbang  yang mau tinggal landas…

Hubunganku dengannya kian lama kian semakin harmonis, karena aku menerapkan komunikasi yang  baik dan manis, maka aku selalu membicarakan dengannya setiap kali aku ingin menaikkan daya explorasinya. Setidaknya Ia memiliki beberapa tingkat skala puncak kenikmatan. Bagiku, sentuhan lapis demi lapis itu adalah skala-skala anak tangga sensasi. Aku biasa memakai skala yang lembut dan santun. Ia tampaknyapun nyaman. Sesekali aku minta izin padanya untuk naik ke skala lebih tinggi. Ia mengerling tanda setuju, namun aku sering merasa malu dan tersipu sendiri, walau ia tak pernah kehabisan kegesitan napasnya jika terlalu kencang…

Kian lama akselerasi putarannya kian sempurna. Desingan berubah menjadi desahan, silih berganti. Aku gemetar dalam sensasi yang sulit kulukiskan dengan kata-kata. Jiwa ini  seperti melayang terbang bebas, kamaraga ini perlahan berubah menjadi selembut sutra… Oh, betapa engkau adalah Bunda dari segala nikmat ragawi sekaligus surgawi…

Saat kusudahi sensasinya, suara itu kembali melalui beberapa tahap, dari mendesahan menjadi mendering, lalu lambat laun mendesau, lembut sekali, bak angin pagi musim selatan. Namun ia tak langsung berhenti. Ada satu momen dari desauan itu sampai jantungnya benar-benar berhenti berdetak. Pada moment itu, seluruh keindahan yang baru saja di pancarkannya menjadi diam, menggantung merengkuh. Itulah ‘moment of silence’, ketika cinta memeluk dirinya sendiri, semua itu, semua perasaan itu membuatku kasmaran!

270008_10151300356839238_215120630_n

***

10 Komentar (+add yours?)

  1. Tunggal Lanang
    Jan 22, 2013 @ 21:36:54

    @#$%^&*()_++_)(*&^%$#@…. waduh… kliyeng kliyeng… sampe ting krenyut… ya kenapa ya … si clit padahal tdak bersalah tapi dianiaya… haaaa…. di sudet sudet, padahal Tuhan telah memberikan seperti itu ada maknanya bagi manusia yang berpikir… kalao dalam penyembahan ke pada Tuhan raga kan tdak ikut, yang menyembah kan bukan raga… jadi kenapa di persoalkan,raga kan hanya gerakan ritual saja, tidakkah disadari bahwa sebatas leher ke bawah yang ada hanya unsur binatang dan sex.. dan sesungguhnya yang menyembah itu siapa…? biarkan raga , anggota raga atau jasad begitu adanya.. ndak usah ditambah kurang.. tapi kalau di rawat .. di pelihara di sayangi nah itu yang penting… Manusia itu kan karya agung Tuhan… dan raga adalah alat tercanggih untuk mengenal Tuhan…, hihihihi… Mr. P jadi geleng geleng… kelengkapan lawannya berkurang.. coba kalo lengkap… hihihi… Mr. P pasti manggut manggut.. manthuk manthuk,,,,, huahahahahaaha… bhuiiiyuuuuhhhhh… ora ndlomok… dan sensasi bagi kaum clit… bisa double orgasm… orgasm clit plus orgasm vagina.. plus sampai ga sadar kontraksi yang poolllsapai squirt…. huhahaha.. itu kan anugerah tak ternilai… drpada banyak kaum clits yang tdk merasa puas dengan alasan sang Mr. P… lalu golek2 ben puas… huahahaha…crit, mung gitu doang kan ga jooossss…. lha nek lengkap tur utuh guedi sisan.. munine cruuuoootttt… langsung matek dilit… sadar2 wis lunglai tekan esuk… huahahahaha… jiaann.. iki ngomong opo nduukk… tuek ra kopen ra kajen… jare bulik Jumbut..huahahahaha…

    salam clit squirt…. crit.

    Balas

    • dewi
      Jan 23, 2013 @ 21:01:26

      @ Tunggal Lanang,

      hwehehehe… Maturnuwun apresiasi dan empathinya, lha nggih to, bicara klitoris ini alangkah lebih baiknya jika kita menanyakannya sendiri kepada yang bersangkutan, kita memiliki kewajiban moral untuk mendengarkan haknya juga, andai ia bisa bicara ia akan menerangkan eksistensinya. Kita seyogyanya tidak bertanya pada Nabi atau kaum laki-laki atau pada kitab sekalipun, apalagi pada wanita yang telah di sunat pada waktu bayi/ remaja yang bisa di pastikan tidak akan pernah tahu bentuk dan rasa klitorisnya setelah dewasa.

      Salam monoclits🙂,

      dewi

      Balas

  2. V Olsy Vinoli Arnof
    Apr 20, 2013 @ 00:20:08

    Lagu latarnya bagus… Keroncong yang sangat Dewi Murni

    Balas

    • dewi
      Apr 23, 2013 @ 09:33:23

      @ V Olsy,

      Maturnuwun, sugeng midhangetaken mas Olsy :)…

      Lagu keroncong Dewi Murni memang lintas tempat, jarak, waktu dan jaman. nggak di bumi nggak di kahyangan, lagunya enak penyanyinya cantik suaranya merdu, bikin ati tentrem adem ayem sepanjang masa :wink:…

      Salam cantik,

      Dewi

      Balas

  3. slamet widodo
    Apr 20, 2013 @ 18:57:24

    tulisan yang menarik dan cerdas salam…

    Balas

  4. Ngwäng
    Des 18, 2013 @ 20:33:39

    Capet-capet / lupa-lupa ingat akan ritual sunat bagi perempuan di Jawa (dulu)….
    Apakah memang mis Clit benar-benar di destroy ?
    Seingatku hanya upacara simbolis pemotongan kunir oleh mbah dukun sebagai simbol anak perempuan sudah menginjak akil balig….

    Balas

    • dewi
      Des 19, 2013 @ 12:05:09

      @ Ngwäng,

      Maturnuwun, di beberapa daerah di Jawa mungkin masih ada ritual upacara simbolis untuk si ‘clit’ ini, bahkan ada yang masih bayi seperti yang ada di Sunda. tapi mungkin exsekusinya nggak se-extrim ritual sunat pada perempuan yang ada di afganistan dan sekitarnya ataupun di suku-suku tertentu di afrika yang sampai harus di destroy :sad:…

      Salam rahayu,

      Dewi

      Balas

  5. dewi
    Feb 13, 2014 @ 11:35:12

    Hwahahaha… asli ngakak poll habis baca journal sex wanita yang satu ini.

    Sebanyak 400 pria bersedia menjadi relawan untuk menstimulasi klitoris pada para pasien wanita yang tergabung dalam group OM ‘Orgasme Meditation’…

    Di pandu seorang pembimbing, para wanita hanya boleh membuka celananya saja, tiduran di alas tikar yoga, di lengkapi bantal dan jam/ timer, yang sudah disediakan dalam kelas, para pria berpakaian sopan dan seragam, dan yang ‘bekerja’ hanya jari-jari mereka dengan tempo eksplorasi 15 menit saja.

    kelas ini bertujuan untuk mentraining para pemula dan juga bagi yang ingin mendapatkan gelar seorang ’master stroke’ bagi yang bisa menguasai teknik seni dalam orgasme klitoris.

    Selanjutnya acara di tutup dengan diskusi dan sharing masing2 peserta/pasangan. Acara ini selain bertujuan mulia yaitu edukasi fellatio juga suatu trend baru dalam membuka wawasan kesehatan sex dunia, dimana klitoris yang mengalami orgasme terbukti bisa mengurangi stress dan menyehatkan wanita sekaligus meningkatkan kebahagiaannya.

    http://www.therooster.com/blog/boulder-now-clit-tickling-capitol-world

    Balas

  6. SUARA
    Apr 25, 2014 @ 15:02:30

    nila se .

    THIS TME..
    belangA
    must Be ELANG semest A

    ELOK

    lama ku di rimbantara
    Suatu masa ku ke kota
    Duhai ada toko permata
    Indah nian toko Permata
    Kuterjaga kaya nian Nusantara

    Ku DIAM terjaga, saat ada yg bertelanjang dada
    Kudiam terjaga
    Kudiam terjaga
    Biarlah mata ku memandang
    Garang KUberdoa, semoga alam tenangkan hatiNYA.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: